RSS
Tampilkan postingan dengan label Anak Berkebutuhan Khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Berkebutuhan Khusus. Tampilkan semua postingan

Karakteristik Anak Lambat Belajar


Peranan orang tua adalah yang pertama dan utama, sebab orang tualah yang paling dekat dengan anak. Tidak semua orang tua menunjukkan sikap yang tepat dan bijaksana terhadap anak mereka yang lambat belajar. Adakalanya orang tua tidak mengerti mengapa anaknya mengalami problem lambat belajar, bahkan secara berlebih – lebihan menuntutnya untuk berprestasi atau setidaknya menyamai dengan anak – anak yang berkemampuan rata – rata. Oleh karenanya pelayanan pendidikan untuk anak lambat belajar seyogyanya juga meliputi program pembinaan untuk orang tuanya, agar orang tua dapat memahami karakteristik dan kebutuhan anak yang memang mengalami penyimpangan dalam perkembangan mentalnya.
Orang tua sering bingung menghadapi kesulitan belajar anaknya di sekolah, karena di rumah mereka tampak memahami banyak hal. Pada umumnya anak lambat belajar memperlihatkan perilaku – perilaku sebagai berikut :




  • Mengalami kesulitan kalau harus berfikir abstrak atau mendalam. Pemikiran anak hanya seputar hal – hal yang berkaitan dengan pengalaman kongkrit dalam kehidupannya sehari – hari.


  • Anak sulit konsentrasi, kemampuan untuk memusatkan perhatiannya pendek. Dibandingkan dengan anak – anak lain di kelas perhatian mereka cepat lepas.


  • Anak mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri. Anak lambat belajar sulit untuk memahami makna dari kata – kata dan tuturan bahasa mereka tidak selancar anak – anak lain.


  • Anak mengalami kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ingin dilakukannya. Anak lambat belajar membutuhkan lebih banyak pengarahan dan pengawasan, tetapi jangan terlalu dilindungi.


  • Reaksi – reaksi anak dan kemampuan belajarnya lebih lambat dari anak – anak lainnya : Anak lambat belajar tidak dapat segera menangkap apa yang diinginkan oleh orang tua atau gurunya. Segala hal perlu disederhanakan, diulang dengan cara – cara yang berbeda, dan diingatkan dari waktu ke waktu.


  • Wawasan anak tentang dunia cenderung lebih sempit dibandingkan dengan teman – temannya : guru dapat membantu anak mengembangkan wawasannya dengan cara menghubungkan mata pelajaran yang dibawakannya dengan kehidupan anak sehari – hari.


  • Membaca adalah kegiatan yang sulit dikuasai anak lambat belajar, oleh karena itu penguasaan materi pelajaran biasanya lebih mudah jika tidak terlalu banyak mencakup kegiatan membaca.

Memahami Anak Lambat Belajar

Pada dasarnya anak lambat belajar adalah manusia individu yang utuh, yang membutuhkan pengakuan, perhatian dan pertolongan. Keberadaan mereka biasanya dalam posisi yang serba menekan jiwanya, situasi lingkungannya selalu menolak kehadirannya, mereka tidak pernah menikmati situasi yang kompetitif, demikian juga dalam proses belajarnya di sekolah, tidak pernah memperoleh pujian “kamu pintar” baik dari gurunya maupun dari temen sekolahnya,bahkan tidak jarang mereka menerima hinaan, karena memang mereka paling tertinggal diantara teman – temannya. Keadaan anak seperti ini membuat orang tua menjadi bingung terlebih tiba – tiba anaknya menjadi pendiam, murung dan malas sekolah.
Anak lambat belajar atau anak memiliki IQ kurang dari 100 namun masih diatas 80 ini membutuhkan lingkungan yang kompetitif, sebab posisi mereka serba di bawah artinya ia selalu tertinggal diantara teman – temannya dan tidak termotivasi dalam berprestasi. Oleh karena itu mereka perlu diberi kesempatan menempatkan dirinya padaposisi di tengah atau di depan dan tidak selalu di bawah dalam memperjuangkan prestasinya. Kesempatan itu bisa diperoleh jika teman – teman sekolahnya mempunyai kemampuan dan karakteristik yang setara dengannya. Situasi yang di harapkan seperti itu dapat diperoleh melalui pelayanan pendidikan secara khusus di sebuah sekolah yang metode pembelajarannya memfokuskan diri pada anak yang berkemampuan lambat belajar serta layanan individual.
Anak slow learner tidak dapat dikategorikan anak berkemampuan intelek normal dan tidak dapat pula digolongkan anak cacat. Secara fisik tidak ada perbedaan dengan yang terlihat pada anak umumnya, daya ingatnya memadai, akalnya pun tidak menunjukkan kelemahan, hanya segi kelemahannya terletak pada kelambatan dalam menyerap menerima pelajaran sekolah atau melakukan tugas – tugas tertentu. Apabila mereka dikumpulkan dengan anak – anak normal ( di sekolah umum ), ia termasuk yang paling bodoh bahkan semakin bodoh karena tertolak oleh lingkungannya. Sedangkan kalau dikumpulkan dengan anak – anak cacat ( Di SLB ), ia tidak semakin pandai karena potensi mereka tidak berkembang secara optimal.

IQ anak

Setiap individu anak mempunyai kelebihan dan kekurangan atau kita sebut dengan keunikkan individu. Tumbuh kembang dari masing – masing anak juga berbeda. Pada kenyataannya anak yang berumur 6 tahun biasanya sudah matang dan siap menerima pelajaran SD bahkan tidak sedikit anak yang berusia 5 tahun juga sudah matang dan siap menerima pelajaran SD, tetapi banyak juga anak – anak yang sudah berumur 7 – 8 tahun masih belum matang dan belum siap.
Usaha pendidikan akan senantiasa berkaitan dengan proses perkembangan seorang anak, sebab pendidikan itu sendiri merupakan bimbingan yang di berikan kepada anak menuju kearah kedewasaan jasmani maupun rohani. Dalam mendidik anak, tentunya tidak terlepas dari perbedaan – perbedaan individual sebab masing – masing manusia memiliki ciri – ciri khas tersendiri berdasarkan potensi yang dimilikinya baik lahir maupun batin. Potensi si anak perlu dilihat normalkah, superiorkah, atau mungkin kurang dari normal. Dengan mengetahui potensi anak dan bakat – bakatnya, maka tujuan pendidikan dapat diarahkan sesuai dengan kondisi kemampuan anak untuk mencapainya. Demikian juga sebaliknya kalau prinsip individualitas itu tidak dipahami, maka terjadi adalah kesenjangan dan ketimpangan.
Patut disadari, jaman sudah mulai berubah, ilmu pengetahuan bertambah luas seiring semakin cepatnya laju kemajuan ilmu dan penemuan hal – hal baru, maka dampaknya banyak orang tua yang memaksakan anaknya untuk berprestasi dan harus sekolah di sekolah favorit yang selanjutnya di bebani dengan berbagai macam les di luar sekolah. Tetapi tidak di sadari dari peristiwa tersebut ada anak yang sangat menderita baik lahir maupun batin, mereka adalah anak – anak yang berkemampuan intelek rendah, dimana mereka sering tertinggal kelas, di bangku SD saja di tempuh sampai 7 tahun atau lebih, dan 4 sampai 5 tahun berjuang di SLTP / SLTA sementara di perguruan tinggi banyak yang DO. Kondisi anak seperti ini jika tidak dipahami oleh orang tua dan guru serta lingkungannya, mereka akan tertekan bahkan berdampak negatif terhadap perkembangan jiwanya.
Berbicara tentang potensi atau kemampuan intelek anak, tentu berkaitan erat dengan konsep kecerdasan atau di kenal dengan istilah Intelligence Quotient (IQ). Umumnya setiap tes IQ mempunyai penggolongan sendiri, seperti yang dilakukan oleh alfred binet yang banyak dipakai sebagai acuan (soetarlinah soekadji, 1981), sebagaimana data di bawah ini:

Intelegensi Penggolongan Persen dan populasi

140-ke atas sangat superior/sangat pandai 1,33

120-139 superior/pandai sekali 11,30

110-119 diatas rata-rata/pandai 18,10

90-109 normal/rata-rata 46,50

80-89 lambat belajar/tanggung 14,50

70-79 border line 5,60

30-69 lemah mental, terdiri dari: 2,63

* Debil IQ 50 – 69

* Embisil IQ 30 – 49

* Idiot IQ di bawah dari 30



Dari konsep kecerdasan di atas, jelas bahwa ukuran kemampuan intelek anak tidak sama dan masing – masing tingkatan mempunyai hak atau kebutuhan yang berbeda – beda, terutama hak dalam memperoleh pendidikan. Oleh karenanya pelayananan pendidikan yang di berikan harus sesuai dengan kondisi kemampuan anak, agar perkembangan mereka dapat di optimalkan. Di dalam UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa pemerataan dan perluasan pendidikan harus diwujudnyatakan, termasuk didalamnya anak – anak bermasalah yaitu bagi warga negara yang memiliki kecerdasan luar biasa dan yang memiliki kelainan fisik / mental perlu memperoleh perhatian. Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro 1996 mengungkapkan idealnya di Indonesia ada 5 macam pendidikan, namun baru 4 macam a.1. pendidikan bagi anak unggulan, anak cerdas, anak normal, dan anak cacat, sedangkan untuk anak – anak yang mempunyai kemampuan intelek nangung / lambat belajar atau dalam klasifikasi IQ 80 – 89 belum mendapat tempat. Dengan tersedianya 5 macam pendidikan tersebut, maka anak – anak / generasi muda tidak ada yang tersisihkan dan terabaikan, bahkan sebaliknya akan memiliki jasmani yang sehat dan jiwa yang kuat sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu menjadikan manusia seutuhnya.
Dari sedikit uraian di atas timbul suatu permasalahan, sejauh mana kepedulian masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan anak lambat belajar? Karena pemenuhan akan layanan pendidikan untuk anak lambat belajar tidak dapat di samakan dengan anak – anak normal yang sebaya demikian juga anak SLB, sehingga perlu usaha besar untuk melakukannya.